Siapa Yang Lebih Aswaja
Siapakah yang lebih aswaja?kalau kita lihat dari konteks
pertanyaannya akan menimbulkan sebuah
persepsi yang berbeda apa lagi kalau orang yang di tanya adalah seorang
yang fanatik ia mungkin akan mengklaim
dirinya yang paling benar padahal ini adalah asumsiyang gegabahi.
permasalahan ini sangatlah sensitif dan perlu merujuk dari
kitab-kitab alim ulama yang berdasar pada hujjah-hujjah yang shohih tidak
asal-asalan.jika kita mengklaim diri kita yang paling benar,kelompok kita yang
paling aswaja sedangkan yang lainnya adalah neraka maka kita tak ada bedanya
diri kita dengan golongan khawarij yang memisahkan diri dari mayoritas kaum
muslimin dan menganggap kelompok mereka yang paling dekat dengan Allah Swt.
Sejak kapan ulama mengajarkan hal seperti ini?ulama aswaja
tidak seperti ini,ulama aswaja sangatlah berat lisannya untuk mengatakan atau
memvonis si fulan sesat atau kelompok si fulan telah melenceng dari pada jalan
islam itu sendiri karena memvonis seseorang tidaklah segampang yang di kira
orang-orang yang sukanya memvonis kelompok lain,ingatlah sodaraku lisanmu
adalah tanggung jawabmu maka berhati-hatilah dalam menggunakannya.
Perlu ilmu yang mumpuni dan proses yang sangatlah rumit bagi
kita khususnya saya orang yang awam akan hal ini. Sebab ini adalah tugasnya
para ulama bukan tugas kita yang awam perkara seperti ini. Kitab kuning tanpa
haraka dan syakal tak bisa kit abaca tapi begitu ringan lidah kita untuk
memvonis orang lain sebagai orang yang sesat hanya karena telah membaca satu
hadits,hanya karena telah mengaji sekali tentang bab bid’ah,hanya karena ia
berbeda faham dengan kita.
apakah ini sebuah perilaku yang perlu kita puji atau perilaku
yang perlu kita cela sodaraku?sadarilah wahai sodaraku, para ulama pun kadang
berbeda pendapat dalam menyikapi sebuah masalah namun mereka tidak saling
mengklaim saya yang benar sedangkan yang lain salah. Padahal menjadi ulama itu
tidaklah mudah wahai sodaraku butuh ketelatenan dan keistiqomahan yang begitu
lama mempelajari fiqih,ushul fiqih,hadits dan ilmu hadist,ilmu tafsir
al-Qur’an.
Proses yang mereka lewati tidaklah cepat wahai sodaraku. mereka
orang-orang alim itu belajar dari kitab yang kecil sampai ke kitab yang besar butuh
proses bertahun-tahun.maka hak kita apa untuk memvonis orang lain sesat
sedangkan kita tak ada apa apanya di bandingkan dengan mereka para alim ulama. Masalah
memvonis kafir/sesat adalah hak para alim
ulama untuk membahas dan mengeluarkan fatwannya bukankah kita ada MUI.
Wahai sodaraku, jadi tahukah engkau siapa yang paling aswaja?
Jika engkau orang yang awam sepertiku maka bertanyalah kepada para alim ulama
yang hak yang berat lisannya untuk memvonis suatu kaum sebelum
mengidentifikasinya terlebih dahulu. Karena sadarilah wahai sodaraku bahwa kita
orang awam yang butuh dengan alim ulama.
Salam seiman
Selamat berproses menjadi
muslim yang beriman dan bertakwa
Salam dariku abu al-ikhwal!
Semoga lisan kita selalu tak lalai
dari dzikir kepada Rabb
Semoga langkah kita selalu berada
kepada langkah yang di Ridhoi oleh NYA
Semoga di hati kita selalu ada imanhttps://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7710438875450175377#overviewstats
hingga akhir haya kita walau hanya sebutir debu!
AAMIIN! ^_^
Comments
Post a Comment